POTENSI ANAK USIA DINI 0 – 8 TAHUN

 

A.   Keberadaan Manusia

Manusia merupakan makhluk yang dianugerahi oleh Allah SWT berupa emosi, imajinasi, akal dan daya cipta intelektual yang tidak dimiliki oleh binatang. Dari kelebihan tersebut, manusia dapat menemukan berbagai ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang akhirnya memiliki kemampuan yang disebut foresight ability, yaitu kemampuan untuk mengantisipasi (meramal) kejadian pada masa mendatang.

Manusia memerlukan masa belajar yang panjang, sepanjang hayat. Manusia mempunyai tujuan hidup dan tujuan tersebut dijadikan sebagai pedoman untuk melangsungkan kehidupan. Menurut Martin Buber, filsuf, mengatakan bahwa hakikat kemanusiaan adalah karena adanya manusia lain (the essence of man is man with man). Kierkegaard berpendapat bahwa manusia disebut manusia bila berhadapan dengan Tuhannya. Filsuf lainnya, seperti Rene Descrates, menyatakan: “Saya berpikir, oleh karena itu, saya ada” (“Cogito, ergo sum”).

Dalam teori Tabula rasa John Locke, manusia dilahirkan seperti kertas putih dan kepribadiannya tergatung dari coretan-coretan yang diberikan manusia lain pada kertas tersebut. William Stern menyatakan bahwa manusia lahir dengan potensi atau disposisi tertentu yang melalui belajar potensi tersebut diubah menjadi kemampuan nyata. Apabila anak telah menunjukkan kemampuannya berarti potensi mereka telah teraktualisasikan (terwujud).

Manusia lahir dengan potensi, namun untuk mengaktualisasikan potensi tersebut manusia perlu mendapat bimbingan dari lingkungan sekitarnya. Jika lingkungan tidak mendukung, maka potensi yang dimiliki manusia tidak akan berkembang. Misalnya, seorang anak manusia (bayi) yang dibesarkan oleh seekor serigala. Dia akan berjalan dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya, merangkak seumur hidupnya, karena tidak ada yang mengajarinya berjalan seperti manusia.

 

 

B.   Potensi yang dimiliki Otak Manusia

Setiap Anak dilahirkan dengan bakat yang merupakan potensi kemampuan (inherent component of ability) yang berbeda-beda dan yang terwujud karena interaksi yang dinamis antara keunikan individu dan pengaruh ingkungan. BerbagaI kemampuan yang teraktualisasikan beranjak dari berfungsinya otak kita.

Berfungsinya otak kita, adalah hasil interaksi dari cetakan biru (blue print) genetis dan pengaruh lingkungan itu. Pada waktu manusia lahr, kelengkapan organisasi otak yang memuat 100 – 200 milyar sel otak (Teyler, 1977, dalam Clark, 1986), siap untuk dikembangkan serta diaktualisasikanmencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi. Jumlah ini mncakup beberapa trilyun jenis informasi dalam hidup manusia (Sogan, 1977, dalam Clark, 1986). Sayang sekali, riset membuktikan bahwa hanya 5% dari kemampuan tersebut (Ferguson, 1973 dalam Clark, 1986). Penggunaan system kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan intelegensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan  yang dialami seseorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan yang memungkinkan akselerasi proses berpikir (Thomson, Berger dan Bery, 1980, dalam Clark, 1986).

Otak dewasa manusia tak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berpikir, perilaku serta emosi manusia yang mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatan. Descrates pernah mengutarakan bahwa otak merupakan pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya.

Kecerdasan orang juga banyak ditentukan oleh struktur otak. Cerebrum otak besar dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan. Respon, tugas dan fungsi belahan otak kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan belahan otak kiri terutama berfugsi untuk merespon terhadap hal yang siftnya liner, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan imaginasi dan kreativitas. Berfungsinya belahan otak kanan inilah yang perlu digalakan dalam pengembangan kreativitas. Sayang sekali, sekolah-sekolah kita pada umumnya kurang memperhatikan berfungsinya belahan otak kanan.

Pembelajaran yang mengendalikan berfungsinya kedua belahan otak secara harmonis akan banyak membantu anak berprakarsa mengatasi dirinya, meningkatkan prestasi belajar sehingga mencapai kemandirian dan mampu menghadapi berbagai tantangan.

 

C.   Nature vs Nurture

Keturunan dan factor keunikan manusia yang genetis (nature) dan lingkungan (nurture) merupakan dua factor yang sama-sama berpengaruh terhadap perkembangan manusia. Genetis terkait dengan keturunan dan keunikan. Sebagai contoh sifat anak-anak bukan merupakan rata-rata dari sifat bapak dan ibunya, teapi akan dominan pada salah satu sifat bapak dan ibunya. Cotoh lainnya adalah setiap manusia berbeda walaupun kembar. Perbedaan tersebut disebabkan oleh factor genetis yang diberikan oleh alam. Sedangkan lingkungan merupakan segala sesuatu yang sifatnya eksternal terhadap diri individu. Factor lingkungan terkait dengan giz, sarana, cinta dan keamanan (Semiawan, 2002).

Peneltian Genetis (Genetic research) baru dapat mendeskripsikan (what is) gejala yang ada berkenaan dengan perkembangan manusia. Penelitian genetis tidak dapat memprediksi (what could) perkembangan manusia dan juga tidak dapat mempreskripsikan (what should), (Semiawan, 2002).

Hasil penelitian terhadap 12 anak kembar menunjukkan bahwa kedanya, baik nature maupun nurture, sangat berperan terhadap keaslian perbedaan individu dalam kemampuan kognitif secara umum. Hasil penelitian yang mutakhir tentang hal tersebut juga mendukung perbedaan kemampuan intelektual. Kesimpulannya bahwa sumbangan factor genetis terhadap perbedaan individu manusia dalam intelegensi adalah signifikan dan secara substansial merupakan kenyataan yang ditemukan dalam penelitian intelegensi (Katzko & Monks, 1995).

 

 

 

 

Perkembangan Penelitian genetic menunjukkan bahwa generalisasi dari intelegensi merupakan suatu fenomena genetik. Pada masa progresif, lingkungan berpengaruh sangat luar biasa terhadap perkembangan intelegensi. Hal ini sangat tekait dengan perolehan pengalaman di sekolah. Kesimpulan lainnya adalah makin bertambah umur, pengaruh genetis terhadap perkembangan intelegensi makin bertambah (Semiawan, 2002).

Multivariate genetic research, yaitu penelitian genetic yang dihubungkan dengan variable lain, menyimpulkan bahwa terdapat tumpang tindih hubungan yang signifikan antara genetik dan intelegensi juga prestasi sekolah. Hal yang lebih penting dalam penelitian genetis adalah rancangan terhadap desain penelitian, dimana terdapat peran aktif anak (development interface), sehingga dapat menyaring atau meyeleksi, mengubah, memodifikasi dan menciptakan lingkungan (Semiawan, 2002).

Secara mendasar manusia memiliki potensi untuk berubah (tend to change) menuju kearah perkembangan (development) dengan cara berinteraksi (interact) dengan lingkungannya. Interaksi inilah yang menghasilkan penemuan (discovery) tentang siapa dirinya dan pertemuan (encounter) dengan mereka yang signifikan bagi perkembangan (Semiawan, 1999).

Apabila interaksi sosial manusia mengalami kegagalan yang fundamental, ia akan tetap berupaya mencari hal-hal baru. Untuk mengaktualisasikan (to actualize) dirinya, terutama terhadap lingkungan terdekat sebagai manifestasi manusia yang memiliki kecenderungan to survive (Semiawan, 2002).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: