OBSERVASI KE MESJID AT-TAQWA

13 Des

Latar belakang mengambil TPA di masjid AT-TAQWA

Stimulasi pendidikan sejak dini adalah hal yang paling penting dan terutama sekali yang harus diberikan kepada anak karena melalui stimulasi usia dini anak akan menjadi seseorang yang dapat membentuk kepribadiannya sendiri, banyak sekali jalan yang harus dilakukan oleh seorang pendidik untuk memberikan stimulasi kepada anak, salah satunya dengan mengajak anak untuk bergabung di dalam suatu kelompok yaitu TPA(taman pendidikan Al qur’an).

Latar belakang kami memilih TPA AT-TAQWA sebagai tempat observasi karena disana anak bisa atau mampu untuk melatih kemampuannya dengan cara diberikan pengajaran oleh guru mereka. Di TPA tersebut kami memandang bahwa stimulasi yang diberikan sesuai dengan apa yang telah kita pelajari, si pendidik memberikan stimulasi pelajaran dengan cara yang dapat ditangkap oleh anak seperti: membaca ayat-ayat pendek , menyebutkan nama-nama malaikat, dan proses Tanya jawab. Dan pada saat kami memperhatikan mereka, kebanyakan dari mereka yang sudah mampu menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru mereka,tapi sebagian dari mereka juga ada yang kelihatan malu-malu untuk memberikan pendapat dan menjawab pertanyaan. Satu hal yang kami kagumi dari TPA ini adalah kebanyakan anak yang aktif adalah anak cowok, dia sangat mampu menjawab apa yang dipertanyakan oleh gurunya. Jika dilihat dari segi pendidik, guru di TPA disini sudah berhasil mengembangkan ilmunya kepada anak-anak didik mereka, guru mampu memberikan contoh yang baik bagi anak didiknya.

v  Deskripsi tempat

TPA(taman pendidikan Al-qur’an) ini berada di jalan belibis blok E No. 1, air tawar barat-padang. Tepatnya di mesjid AT-TAQWA.

BAB II

ISI/LAPORAN

v  Keadaan tempat observasi

Keadaan TPA ini sangat memadai dengan fasilitas yang telah disediakan anak bisa belajar dengan baik dan nyaman, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan lancar.

  • Guru : Drs. Zulsyafri Dt. Sampono batuah
  • Daftar pelajaran
No

Senen

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

1 Al qur’an dan hadist Fiqih dan ibadah Bahasa arab Aqidah akhlak Sejarah kebudayaan islam(SKI)
2 Hafalan ayat Hafalan shalat Hafalan do’a Hafalan zikir Tajwid
  • Daftar absen
No

Nama

Keaktifan

1

Novidio ramadhani fitri. P

2

Agustin ulan dari

ü

3

Friska zalianti

4

Fani oktavia

5

Nando alex candra

6

Moriska kurnia. P

ü

7

Karin nabila putrid

8

Fauzan maulana

9

Gandhi dilya utama. P

10

Aristia marta irawan

11

Mutiara latifah

ü

Keterangan :

ü  : Belum mampu

  • : Sudah mampu

v  masalah yang dimiliki oleh anak

  • Anak menghafal ayat terlalu panjang sehingga susah untuk dia mengahafalnya.
  • Anak malu untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

v  Saran

Seharusnya pembelajaran di TPA ini dilakukan secara bertahap bukan secara sekaligus sehingga anak mampu untuk menguasainya secara baik. Dan dengan begitu otak anak akan mudah untuk menyerap pelajaran yang diberikan pendidik kepada anak didiknya, misalnya saja dari segi penghafalan ayat, anak dituntut untuk selalu mengahafal ayat sehingga dia selalu mengalami kendala dalam segi mengahafal, banyak anak yang kurang tahu dalam mengahafal ayat-ayat yang diberikan oleh guru, mengajar di TPA seharusnya mengedepankan system praktek bukan system dikte sehingga anak lebih bisa dan mampu mengasah dan menggunakan otaknya untuk berfikir.

11. Jadikan rumah tempat yang aman untuk anak bergerak dengan memperhatikan keamanan dari colokan listrik dan barang-barang di rumah yang bisa mencelakakan anak.

12. Biarkan anak berimajinasi dan bereksperimen serta menyatakan perasaan mereka dengan segala keunikannya, aktiflah bersama imajinasi anak.

13. Beri kesempatan pada anak anda untuk bereksplorasi, mencoba karena selama ada ruang untuk berbuat suatu kesalahan, disana anak belajar.

14. Hargai anak atas apapun yang mereka lakukan meskipun kecil.

15. Jujurlah terhadap kondisi yang dialami anak, jangan membohonginya dengan tahayul

16. Jadilah contoh atau model dan lakukan kegiatan sederhana bersama anak.

DAFTAR PUSTAKA

http://sharing-jamaluddin.blogspot.com/2012/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

http://ihtiroom.staff.uns.ac.id/?p=235

http://tribk06.multiply.com/journal/item/34/Salah_suai_Maladjusment?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

http://auliamuttaqin.wordpress.com/2008/03/27/membentuk-konsep-diri-anak/

http://www.ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan/76217/Kiat-membentuk-konsep-diri-positif-pada-anak

http://blog.elearning.unesa.ac.id/nina-dwi-susanti/membangun-konsep-diri-positif-pada-anak-anak

http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/05/pembentukan-konsep-diri-yang-positif-pada-anak/

http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak.html

http://niahidayati.net/tag/upaya-dalam-pengembangan-kepribadian-anak

Konvensi sosial (halaman belum tersedia)”>konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundalimentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu – sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari Pasca-Konvensional

Tingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’ ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional.Dalam tahap lima, individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut – ‘memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak’? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosiall dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan soasial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang.  Hal tersebut diperoleh melalui mayoritas sosial, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis  tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.Dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisiona dari immanual khant. Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama dari jhon rauls. Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya. Walau Kohlberg yakin bahwa tahapan ini ada, ia merasa kesulitan untuk menemukan seseorang yang menggunakannya secara konsisten. Tampaknya orang sukar, kalaupun ada, yang bisa mencapai tahap enam dari model Kohlberg ini

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Anak dilahirkan tanpa moral (imoral) sikap moral untuk berperilaku sesuai nilai-nilai luhur dalam masyarakat belum dikenalnya. Intervensi terprogram melalui pendidikan, serta lingkungan sosial budaya, mempengaruhi perkembangan struktur kepribadian bermuatan moral. Ini dialami dalam keluarga bersama teman sebaya dan rekan-rekan sependidikan, kawan sekerja/kegiatan ditengah lingkungan.
a. Perubahan dalam lingkungan
Perubahan dan kemajuan dalam berbagai bidang membawa pergeseran nilai moral serta sikap warga masyarakat ditengah perubahan dapat terjadi kemajuan/kemrosotan moral. Perbedaan perilaku moral individu sebagian adalah dampak pengalaman dan pelajaran dari lingkungan nilai masyarakatnya. Lingkungan memberi ganjaran dan hukuman. Ini memacu proses belajar dan perkembangan moral secara berkondisi.
b. Struktur kepribadian
Psiko analisa (freud) menggambarkan perkembangan kepribadian termasuk moral. Dimulai dengan sistem ID, selaku aspek biologis yang irasional dan tak disadari. Diikuti aspek psikologis yaitu subsistemego yang rasional dan sadar. Kemudian pembentukan superego sebagai aspek sosial yang berisi sistem nilai dan moral masyarakat.
Ketiga subsistem kepribadian tersebut mempengaruhi perkembangan moral dan perilaku individu. Ketidakserasian antara subsistem kepribadian, berakibat seseorang sukar menyesuaikan diri, merasa tak puas dan cemas serta bersikap/berperilaku menyimpang. Sedang keserasian antara subsistem kepribadian dalam perkembangan moral akan berpuncak pada efektifnya kata hati (superego) menampilakan watak/perilaku bermoral seseorang.
Ada sejumlah faktor penting yang mempengaruhi perkembangan moral anak (Hurlock, 1990).
1. Peran hati nurani atau kemampuan untuk mengetahui apa yang benar dan salah apabila anak dihadapkan pada situasi yang memerlukan pengambilan keputusan atas tindakan yang harus dilakukan.
2. Peran rasa bersalah dan rasa malu apabila bersikap dan berperilaku tidak seperti yang diharapkan dan melanggar aturan.
3. Peran interaksi sosial dalam memberik kesepakatan pada anak untuk mempelajari dan menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain.

D. Tahap-Tahap Perkembangan Moral
– menurut kohlberg ada 3 tahap perkembangan moral yaitu:
a. tahap prokonvensional
dimana aturan berisi ukuran moral yang dibuat otoritas pada tahap perkembangan ini anak tidak akan melanggar aturan karena takut ancaman hukuman dari otoritas.
b. tahap konvensional
anak mematuhi aturan yang dibuat bersama, agar ia diterima dalam kelompok sebaya/oleh otoritasnya.
c. Tahap pascakonvensional
Anak menaati aturan untuk menghindari hukuman kata hatinya.
– menurut J. Bull perkembangan moral dibagi menjadi 3 yaitu:
a. tahap anomi
ketidakmampuan moral bayi. Moral bayi barulah suatu potensi yang siap dikembangkan dalam lingkungan.
b. tahap heteronomi
dimana morral yang berpotensial dipacu berkembang orang lai/otoritas melalui aturan dan kedisiplinan.
c. tahap sosionomi
dimana moral berkembang ditengah sebaya/dalam masyarakat, mereka lebih menaati aturan kelompok dari pada aturan otoritas.
d. tahap otonomi
moral yang mengisi dan mengendalikan kata hati serta kemampuan bebasnya untuk berperilaku tanpa tekanan lingkungan.
E. Cara Mempelajari Sikap Moral
Sikap dan perilaku moral dapat dipelajari dengan cara berikut.
1. Belajar melalui cob/ ralat (tryal and error). Anak mencoba belajar mengatahui apakah perilakunya sudah memenuhi standart sosial dan persetujuan sosial atau belum. Bila belum, maka anak dapat mencoba lagi sampai suatu ketika secara kebetulan dapat berperilaku sesuai dengan yang diharapkan.
2. Pendidikan langsung yang dilakukan dengan cara anak belajar memberi reaksi tertentu secara tepat dalam situasi tertentu, serta dilakukan dengan cara memenuhi peraturan yang berlaku dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar.
3. Identifikasi dengan orang yang dikaguminya. Cara ini biasanya dilakukan secara tidak sadar dan tanpa tekanan dari orang lain. Yang penting ada teladan dari orang yang diidentifikasikan untuk ditiru perilakunya.Pendidikan saat ini umunya mempersiapkan peserta didik memilki banyak pengetahuan, tetapi tidak tahu cara memecahkan masalah tertentu yang dihadapai dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Pendidikan lebih mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anak yang pandai dan cerdas, tetapi kurang mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anak yang baik. Masalah berkenaan dengan baik dan buruk menjadi kajian bidang moral. Demikian juga dalam mengembangkan aspek moral peserta didik berarti bagaimana cara membantu peserta didik untuk menjadi anak yang baik, yang mengetahui dan berperilaku atau bersikap berbuat baik dan benar. Sikap dan perilaku moral dapat dikembangkan melalui pendidikan dan penanaman nilai/ norma yang dilakukan secara terintegrasi dalam pelajaran maupun kegiatan yang dilakukan anak di keluarga dan sekolah. Pendidikan bukan hanya mempersiapkan anak menjadi manusia cerdas, tetapi juga menjadi manusia yang baik, berbudi luhur, dan berguna bagi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: